Gw baru saja bangun tidur siang. Ada beberapa waktu yang biasa kita habiskan untuk mengumpulkan nyawa. Pikiran kita masih belum bisa terfokus untuk beraktifitas tapi cukup untuk melamun. Dan gw pun membayangkan suatu kondisi.
Gw berjalan diantara bangunan-bangunan tua terlantar. Bukan bangunan yang menjadi objek wisata sejarah dan semacamnya. Hanya bangunan-bangunan biasa. Banyak orang berjalan serta kendaraan lalu lalang di sekeling gw, sibuk dengan urusannya masing-masing di dunia modern yang serba cepat ini. Sementara gw berhenti karena terpesona melihat lumut, kerak, dan retakan pada setiap inchi bangunan-bangunan yang telah menjadi figuran dan tak diacuhkan tersebut. Bukan karena gw seorang arkeolog yang suka hal yang tua-tua, tapi lebih karena gw sadar bahwa setiap kerak yang menempel seolah menjadi saksi bisu yang menunjukkan selama apa bangunan tersebut berdiri dan apa saja yang telah dialami dan disaksikannya selama itu.
Kemudian diantara lalu lalang orang-orang, gw menutup mata dan mencoba merasakan angin masa lalu dimana bangunan-bangunan tersebut eksis secara wajar. Kubayangkan dari sekeliling gw terlihat orang lalu lalang dengan mode pakaian puluhan tahun lalu, gaya bahasa yang sama sekali berbeda, topik pembicaraan yang bagi generasi teknologi terdengar kolot membosankan dan ketinggalan jaman.
Lalu saat membuka mata, penglihatan gw tertumbuk pada bangunan-bangunan lain yang menjulang di belakang bangunan-bangunan tua tadi. Sangat megah, modern, dan futuristik.
Lamunan gw buyar, dan gw menertawakan diri gw sendiri. Beberapa dekade lagi mungkin seseorang akan melihat bangunan-bangunan futuristik tersebut sebagai kekunoan dan kelapukan. Dan kita manusia-manusia zaman sekarang, yang sangat bangga akan teknologi yang kita punya akan dilihat membosankan dan ketinggalan zaman.
Gw lantas tertawa lagi. Mungkin generasi beberapa dekade lalu juga merasa bahwa mereka sudah sangat maju. Mereka pasti tidak terbayang bahwa dunia akan menjadi seperti sekarang. Sama seperti kita tidak tahu apa yang menanti kita di masa depan. Ramalan hanyalah ramalan. Harapan hanyalah harapan. Waktu akan mengawal kita menuju masa depan yang sebenarnya tidak eksis. Karena masa depan itu sendiri adalah masa kini pada saat itu.
Rheazone
Jumat, 02 Desember 2011
(Self Question) Kira-kira apakah tujuan diciptakannya misteri?
Gw sedang ingin sedikit berfilosofis akhir-akhir ini. Hidup manusia yang singkat mungkin tak akan bisa menguak semua misteri yang ada di muka bumi ini. Sebenarnya untuk apa misteri itu ada? Agar manusia terus mencarikah? TApi bagaimana jika kita mencari, kemudian menemukan, tapi kita menarik kesimpulan yang melenceng dari hal yang sesungguhnya terjadi? Kebenaran sendiri kadang-kadang menjadi sesuatu hal penting yang benar-benar terjadi tapi tidak dibukukan, tidak ditulis dalam sejarah, dan bahkan para saksi hidup sudah mati. Lalu apa yang tesisa? Jika tidak ada siapapun yang tahu bahwa sesuatu pernah terjadi, bagi gw itu sama saja dengan tidak pernah terjadi sama sekali.
Manusia cenderung ingin mencari kebenaran.Yang gw tahu, kebenaran itu sendiri tidak menjadi esensial jika tidak ada hikmahnya. Mungkin perjalanan mencari kebenaran itu sendiri bisa menjadi esensinya. Bahkan kita sendiri terkadang menyimpan kebenaran yang esensinya malah menjadi hilang jika terungkap.
Keberadaan misteri ternyata juga merupakan misteri. Hanya Ia-lah yang tahu apa alasan-Nya mengungkap beberapa misteri dan tetap menyimpan misteri yang lain rapat-rapat. Beruntunglah manusia yang dalam kehidupannya yang singkat ini bisa mengungkap sedikit saja rahasia-Nya.
Manusia cenderung ingin mencari kebenaran.Yang gw tahu, kebenaran itu sendiri tidak menjadi esensial jika tidak ada hikmahnya. Mungkin perjalanan mencari kebenaran itu sendiri bisa menjadi esensinya. Bahkan kita sendiri terkadang menyimpan kebenaran yang esensinya malah menjadi hilang jika terungkap.
Keberadaan misteri ternyata juga merupakan misteri. Hanya Ia-lah yang tahu apa alasan-Nya mengungkap beberapa misteri dan tetap menyimpan misteri yang lain rapat-rapat. Beruntunglah manusia yang dalam kehidupannya yang singkat ini bisa mengungkap sedikit saja rahasia-Nya.
Kamis, 03 Maret 2011
(Book Review) Inheritance cycle..., Eragon, Eldest, Brisingr, Book4???
Kali ini gw tidak akan menuliskan sinopsis dari cerita ini melainkan hanya akan mengulas beberapa hal yang gw anggap menarik untuk dibahas.
Yang paling pertama ingin gw bahas adalah gaya menulis Christopher Paolini. Awalnya antara percaya dan tidak bahwa buku pertama dari Siklus Warisan ini yakni Eragon, ditulis Paolini saat ia berumur 15. Alur serta konsep cerita seperti itu rasanya terlalu kompleks untuk dituliskan seorang yang baru beranjak remaja. Namun kenyataannya memang seperti itu, disaat remaja lain (contohnya gw-.-) dengan santainya menikmati dan mengulas karya orang lain, di umur belia ia sudah menciptakan dunia tempat tinggal Eragon dan segala isinya. Memang dari segi konten, banyak terinspirasi dari karya-karya fantasi sebelumnya semisal The Lord of the Rings, namun detailnya lebih mengesankan dari novel pendahulunya itu. Memang tidak sebombastis Harry Potter karya J.K Rowling dari segi peminat dan penggemar. Hal ini sepertinya karena penulisan Siklus Warisan ini lebih mengutamakan detail daripada amusement pembaca sehingga terkesan jadi lebih berat bagi para remaja yang lebih menyukai bacaan agak ringan. Namun gw pribadi sangat senang dengan kosakata yang dipilih Paolini untuk menggambarkan detail, baik itu tokoh, tempat maupun kejadian yang sedang berlangsung. Rasanya mudah membayangkan kejadian tersebut benar-benar terjadi saat kita memahami keseluruhan frasa atau kalimat yang dipilih Paolini.
Hal menarik lainnya adalah pemilihan sudut pandang. Selain Eragon, Paolini memilih Roran, Nasuada, dan Saphira untuk di-eksplorasi lebih jauh mengenai sudut pandang, watak dan kebiasaan yang biasa dilakukan para tokoh. Dan entah mengapa saat berada dalam sudut pandang Roran, Nasuada ataupun Saphira, rasanya mereka benaar-benar menjadi tokoh utama dengan Eragon hanya sebagai peran pelengkap. Dan dengan lihainya ia membuat pembaca (baca: gw) mendalami serta menyukai tokoh-tokoh tersebut lebih daripada sebelumnya. Sehingga ini bukan lagi hanya tentang Eragon si Penunggang, tapi mencakup apa yang terjadi pada semua pihak yang terlibat pada akhirnya. Lucunya sudut pandang orang-orang tertentu yang sama pentingnya dengan para tokoh di atas seperti pikiran Arya dan Murtagh tetap tak tersetuh dan masih dipertanyakan.
Salah Satu Perkiraan Cover Buku IV
Hanya satu buku lagi untuk mengakhiri rangkaian cerita Siklus Warisan ini yang saya tahu masih harus menunggu agak lama untuk dapat dinikmati pembaca setianya. Masih banyak pertanyaan yang belum terjawab dan rasanya menunggu dengan sabar itu menyebalkan tapi tak ada salahnya menunggu sesuat lebih lama untuk dapat kualitas yang terbaik dan kepuasan yang lebih besar. Semoga saja. Mengutip kata-kata Brom, semoga pedangmu tetap tajam!
Label:
christopher Paolini,
eragon arya,
inheritance cycle,
nasuada,
roran
| Reaksi: |
Senin, 28 Februari 2011
(Manga Review) Cross Game, Another Baseball Manga from Mitsuru Adachi... Mengaduk Emosi, Like always...arrrrrGGh
Kou&Aoba
Wakaba&Kou
Nakanishi-Kou-Akaishi
Waktu bergulir, Kou yang sudah SMU akhirnya menjadi Pitcher handal. Bersama dengan Akaishi yang menuruti perkataan Wakaba saat mereka masih kecil dan menjadi Catcher. Juga Azuma, batter handal yang sepertinya suka pada Aoba. Dan Nakanishi yang sejak kecil satu klub Baseball dengan Kou. Bersama mereka berjuang agar bisa sampai ke Koushien seperti mimpi Wakaba.
Membaca manga satu ini benar-benar mengaduk emosi bahkan dari jilid pertama. Bagi yang sudah biasa membaca karya Adachi sensei seperti gw, seharusnya sudah harus bisa menebak alur cerita ini. Tapi tetap saja sang komikus selalu membuat kejutan-kejutan yang tak terdeteksi bahkan oleh para penikmat karyanya. Bagi yang belum membaca seri Cross Game ini, gw anjurkan untuk jangan melewatkan membaca manga satu ini.
Label:
baca manga,
cross game manga,
mitsuru adachi
| Reaksi: |
(FILM/Movie review) Tron Vs Troy, Digital Vs Kolosal...
Dua film dengan konsep sangat berbeda ini adalah salah satu/dua film favorit gw.
Tron yang baru saya tonton baru-baru ini menggugah imajinasi kita akan dunia digital yang tidak mustahil untuk diciptakan dengan makin berkembangnya teknologi. Tron: Legacy ini adalah sekuel dari film Tron yang dirilis tahun 1982 dulu. Tron: Legacy menggambarkan kehidupan Sam Flynn, anak dari Kevin Flynn sang pencipta dunia gigital yang menghilang saat Sam anak-anak. Sam yang akhirnya menemukan cara untuk memasuki dunia ciptaan ayahnya malah dilibatkan dalam game berbahaya yang membutuhkan keterampilan dan kecepatan. Awalnya ia tidak terlalu kesulitan untuk bertahan, namun akhirnya ia terdesak dan dibantu oleh seorang Program bernama Quorra. Saat itu Sam telah bertemu Clu, Program jahat yang sangat mirip dengan ayahnya, Kevin Fynn. Quorra membawa Sam bertemu dengan ayah aslinya yang ternyata tidak bisa pulang ke dunia nyata karena dihalangi Clu. Berbeda dengan Clu yang umurnya tidak berubah sejak 20 tahun lalu, Kevin Flynn sudah sangat renta dan kehilangan semangat. Setelah berunding, akhirnya Sam, Kevin Flynn dan Quorra sepakat untuk mencari cara keluar dari dunia digital yang sudah tak terkendali itu. Sayang mereka dihadang oleh Tron, Program yang dulunya teman Kevinn Flynn. Meski akhirnya Sam kembali ke dunia nyata, ia harus kehilangan seseorang yang dicintainya lagi.
Film dengan efek 3D ini benar-benar mengajak kita bertualang di unknown world. Garrett Hedlund dan Olivia Wilde yang berperan sebagai Sam Flynn dan Quorra sangat cocok untuk perannya masing-masing. Tokoh-tokoh sentral di sekuel pertamanya itu yakni Tron/Alan Bradley dan Clu/Kevin Flynn yang diperankan Bruce Broxleitner dan Jeff Bridges juga hadir di sekuel keduanya dengan peran yang sama. Yang unik adalah tokoh Clu yang berumur 30an, dengan tokoh Kevin Flynn yang 50an diperankan oleh orang yang sama yaitu Jeff Bridges. Proses editing yang sempurna membuat Jeff benar-benar terlihat masih muda.
Berbeda dengan Tron, Troy yang dirilis pada tahun 2004 ini merupakan film adaptasi dari karya terlaris Homer, The Illiad, yang sangat bergaya kolosal. Dengan pemain bertabur bintang-bintang top Hollywood, film dengan banyak Plot ini sangat menarik untuk ditonton. Tokoh sentral dalam film ini adalah Achilles, seorang prajurit gagah berani yang dihormati pasukannya tapi sifatnya sangat seenaknya sehingga Raja Sparta, Agamemnon, sangat kesal padanya meskipun juga sangat membutuhkannya di medan perang.
Masalah bermula ketika Paris, pangeran dari kerajaan Troy membawa lari Helen, istri dari adik raja Sparta. Hector, kakak Paris yang juga putra mahkota Troy yang gagah, meski tidak setuju dengan tindakan Paris, tetapi tetap melindungi adiknya. Raja Sparta yang memang sangat ingin menguasai Troy memanfaatkan kemurkaan adiknya untuk mendeklarasikan perang terhadap Troy. Troy yang hanya sebuah kerajaan kecil kewalahan pada awalnya. Achilles yang menjadikan sepupu Hector, Brisseis sebagai tawanan akhirnya menyukai gadis itu dan tidak ikut memeriahkan peperangan sehingga Sparta kekurangan kekuatan. Sayangnya sepupu yang sangat disayangi Achilles, Patroclus, terbunuh dalam peperangan oleh Hector yang mengira itu Achilles sehingga Achilles murka dan menantang Hector duel satu lawan satu yang berakhir dengan kematian Hector. Achilles membebaskan Brisseis yang sama-sama berduka karena kematian sepupunya. Troy akhirnya jatuh karena taktik Oddysus yang cerdik, yaitu memasukan prajurit Sparta ke dalam patung kuda. Pada malam hari saat warga Troy tertidur, Prajurit Sparta keluar dari patung dan memanggil prajurit lain yang bersembunyi di perbukitan lalu menyerang dan membakar habis Troy. Achilles tidak bersedia terlibat perang dan malah mencari Brisseis yang ternyata sedang disudutkan oleh Agamemnon. Brisses menusuk Leher Agamemnon dengan belatinya, namun prajurit Agamemnon menyerangnya. Untunglah Achilles datang menyelamatkannya. Sayangnya pertemuan itu juga diwarnai tragedi.
Film ini benar-benar mengalir. Tokoh-tokohnya diperankan secara pas oleh para pemerannya. Achilles yang diperankan Bradd Pitt, Hector yang diperankan Eric Bana si Hulk, Paris yang diperankan Orlando Bloom si Legolas, Odysus yang diperankan Sean Bean, Helen yang diperankan oleh Diane Kruger, Brisseis yang diperankan oleh Rose Byrne, juga Patroclus yang diperankan Garrett Hedlund. Satu hal yang sangat menarik dari film ini adalah sulit menentukan peran antagonis. Meski Hector dan Achilles berada di pihak berlawanan dan saling menjatuhkan, dua-duanya punya latar belakang dan kepribadian yag mengesankan. jadilah Agamemnon yang mendapatkan kehormatan jadi pemeran antagonis di film ini.
Dua film diatas menarik dengan caranya masing-masing. Tron yang meskipun kurang mendetil dalam pemaparan latar belakang mempunyai kelebihan di segi kecepatan alur. Sedangkan Troy justru sangat kuat di segi penokohan dan latar belakang. Persamaan dari kedua film ini adalah sama-sama menampilkan Garret Heldlund sebagai salah satu tokohnya.
Label:
3D,
brad pitt troy,
digital kolosal,
edit wajah Jeff Bridges,
eric bana troy,
garrett heldlund,
Jeff Briges,
olivia Wilde,
review film,
tron,
tron: Legacy,
troy
| Reaksi: |
Sabtu, 26 Februari 2011
(The Short Second Life of Bree Tanner Review) Stephanie loves Bree....So do I, finally..
Sejak diterbitkan dan banyak sekali posternya menempel di toko buku langganan gw, tak pernah sekalipun terpikir akan sangat menyukai novel ini dan terutama tokoh-tokohnya yang meskipun kisah hidupnya hanya dinarasikan dalam beberapa hari yang singkat tetapi tetap sarat makna.
Buku ini mengisahkan tentang Bree Tanner setelah ia menjadi vampir di bawah komando Riley sampai pada akhirnya ia dieksekusi oleh Volturi seperti yang diceritakan di Eclipse. Tapi jangan salah, penokohan Bree di Eclipse sama sekali bukan sifat asli Bree yang sebenarnya. Dibawah komando Riley, Bree dipertemukan dengan vampir-vampir lain yang sifatnya bermacam-macam. Kebanyakan dari mereka kasar dan serampangan, Bree tidak menyukai kebanyakan dari mereka. Namun ia bertemu dua orang yang pada akhirnya ia anggap teman. Diego yang lugas dan sangat cerdas dan Freaky Fred yang meskipun dijauhi yang lain karena bakatnya, cukup dekat dengan Bree. Nasib membuat mereka bertiga berpisah jalan, membuat Bree kehilangan keinginan untuk hidup dan pada akhirnya berpura-pura tolol agar segera dieksekusi oleh keluarga volturi.
Yang tidak diceritakan secara gamblang di Eclipse adalah bahwa Jane dari Volturi memang melakukan pembicaraan dengan Victoria untuk segera melenyapkan The Cullens. Juga bahwa sebelum mati Bree berkomunikasi dengan Edward.
Stephanie menulis di awal bahwa ia menyayangi Bree, dan berharap kita semua juga menyayaginya. Awalnya gw ragu saat mulai membuka halaman pertama buku ini. Bukunya tipis dan mahal tapi hanya menceritakan seorang vampir baru yag tidak terlalu penting. Tapi ternyata tidak pernah ada tokoh yang tidak penting. Setiap tokoh punya masa lalu dan jalan hidup masing-masing yang sangat rumit dan kadang menyedihkan. Kisah Bree memang menyedihkan, namun pada akhirnya ia tidak menyisakan penyesalan pada saat ia mati. Lagipula setiap penjualan bukunya yang menceritakan kisahnya ini, disumbangkan $1 ke Palang Merah Internasional. Bree benar-benar tidak mati sia-sia.
Buku ini mengisahkan tentang Bree Tanner setelah ia menjadi vampir di bawah komando Riley sampai pada akhirnya ia dieksekusi oleh Volturi seperti yang diceritakan di Eclipse. Tapi jangan salah, penokohan Bree di Eclipse sama sekali bukan sifat asli Bree yang sebenarnya. Dibawah komando Riley, Bree dipertemukan dengan vampir-vampir lain yang sifatnya bermacam-macam. Kebanyakan dari mereka kasar dan serampangan, Bree tidak menyukai kebanyakan dari mereka. Namun ia bertemu dua orang yang pada akhirnya ia anggap teman. Diego yang lugas dan sangat cerdas dan Freaky Fred yang meskipun dijauhi yang lain karena bakatnya, cukup dekat dengan Bree. Nasib membuat mereka bertiga berpisah jalan, membuat Bree kehilangan keinginan untuk hidup dan pada akhirnya berpura-pura tolol agar segera dieksekusi oleh keluarga volturi.
Yang tidak diceritakan secara gamblang di Eclipse adalah bahwa Jane dari Volturi memang melakukan pembicaraan dengan Victoria untuk segera melenyapkan The Cullens. Juga bahwa sebelum mati Bree berkomunikasi dengan Edward.
Stephanie menulis di awal bahwa ia menyayangi Bree, dan berharap kita semua juga menyayaginya. Awalnya gw ragu saat mulai membuka halaman pertama buku ini. Bukunya tipis dan mahal tapi hanya menceritakan seorang vampir baru yag tidak terlalu penting. Tapi ternyata tidak pernah ada tokoh yang tidak penting. Setiap tokoh punya masa lalu dan jalan hidup masing-masing yang sangat rumit dan kadang menyedihkan. Kisah Bree memang menyedihkan, namun pada akhirnya ia tidak menyisakan penyesalan pada saat ia mati. Lagipula setiap penjualan bukunya yang menceritakan kisahnya ini, disumbangkan $1 ke Palang Merah Internasional. Bree benar-benar tidak mati sia-sia.
Label:
bree,
bree tanner,
buku,
eclipse,
novel,
resensi,
resume,
review film,
short second life of bree tanner,
stephanie meyer,
twilight
| Reaksi: |
This is the opening.., not the beginning!
Bikin blog awalnya tak pernah menjadi pilihan. Bagaimana mungkin gw yang tak pernah berhasil menulis buku harian berniat menulis di blog? Ternyata karena proses bikinnya cepat, tahu-tahu jadilah blog ini. Berhubung hidup gw biasa-biasa saja dan hampir tak ada hal menarik untuk diceritakan, isi blog ini nantinya masih misteri. Bahkan meskipun pada akhirnya sedikit sekali atau bahkan tak ada satupun yang membaca blog ini, gue harap siapapun yang membacanya menikmatinya. Rhea..
Langganan:
Entri (Atom)




