Sabtu, 03 Desember 2011

(Self Question) Kira-kira apakah tujuan diciptakannya misteri?

Hidup manusia yang singkat mungkin tak akan bisa menguak semua misteri yang ada di muka bumi ini. Sebenarnya untuk apa misteri itu ada? Agar manusia terus mencari? Tapi bagaimana jika kita mencari, kemudian menemukan, tapi kita menarik kesimpulan yang melenceng dari hal yang sesungguhnya terjadi? Kebenaran dari sesuatu hal penting dimasa lalu yang benar-benar terjadi tapi tidak dibukukan, tidak ditulis dalam sejarah, dan bahkan para saksi hidup sudah mati, bagaimana kita mencari tahu kebenaran sejenis ini? Lalu apa yang tesisa? Jika tidak ada siapapun yang tahu bahwa sesuatu pernah terjadi, dunia akan menganggapnya tidak pernah terjadi sama sekali.


Manusia cenderung ingin mencari kebenaran. Kebenaran itu sendiri tidak menjadi esensial jika tidak ada hikmahnya. Mungkin perjalanan mencari kebenaran itu sendiri bisa menjadi esensinya. Bahkan kita sendiri terkadang menyimpan kebenaran yang esensinya malah menjadi hilang jika terungkap.

Keberadaan misteri ternyata juga merupakan misteri. Hanya Ia-lah yang tahu apa alasan-Nya mengungkap beberapa misteri dan tetap menyimpan misteri yang lain rapat-rapat. Beruntunglah manusia yang dalam kehidupannya yang singkat ini bisa mengungkap sedikit saja rahasia-Nya.

Kamis, 03 Maret 2011

(Book Review) Inheritance cycle..., Eragon, Eldest, Brisingr, Book4???

Kali ini saya tidak akan menuliskan sinopsis dari cerita ini melainkan hanya akan mengulas beberapa hal yang saya anggap menarik untuk dibahas.

Yang paling pertama ingin saya bahas adalah gaya menulis Christopher Paolini. Awalnya antara percaya dan tidak bahwa buku pertama dari Siklus Warisan ini yakni Eragon, ditulis Paolini saat ia berumur 15. Alur serta konsep cerita seperti itu rasanya terlalu kompleks untuk dituliskan seorang yang baru beranjak remaja. Namun kenyataannya memang seperti itu, di saat remaja lain (contohnya saya-.-) dengan santainya menikmati dan mengulas karya orang lain, di umur belia ia sudah menciptakan dunia tempat tinggal Eragon dan segala isinya. Memang dari segi konten, banyak terinspirasi dari karya-karya fantasi sebelumnya semisal The Lord of the Rings, namun detailnya lebih mengesankan dari novel pendahulunya itu. Memang tidak sebombastis Harry Potter karya J.K Rowling dari segi peminat dan penggemar. Hal ini sepertinya karena penulisan Siklus Warisan ini lebih mengutamakan detail daripada amusement pembaca sehingga terkesan jadi lebih berat bagi para remaja yang lebih menyukai bacaan agak ringan. Namun saya pribadi sangat senang dengan kosakata yang dipilih Paolini untuk menggambarkan detail, baik itu tokoh, tempat maupun kejadian yang sedang berlangsung. Rasanya mudah membayangkan kejadian tersebut benar-benar terjadi saat kita  memahami keseluruhan frasa atau kalimat yang dipilih Paolini.

Hal menarik lainnya adalah pemilihan sudut pandang. Selain Eragon, Paolini memilih Roran, Nasuada, dan Saphira untuk di-eksplorasi lebih jauh mengenai sudut pandang, watak dan kebiasaan yang biasa dilakukan para tokoh. Dan entah mengapa saat berada dalam sudut pandang Roran, Nasuada ataupun Saphira, rasanya mereka benaar-benar menjadi tokoh utama dengan Eragon hanya sebagai peran pelengkap. Dan dengan lihainya ia membuat pembaca (baca: saya) mendalami serta menyukai tokoh-tokoh tersebut lebih daripada sebelumnya. Sehingga ini bukan lagi hanya tentang Eragon si Penunggang, tapi mencakup apa yang terjadi pada semua pihak yang terlibat pada akhirnya. Lucunya sudut pandang orang-orang tertentu yang sama pentingnya dengan para tokoh di atas seperti pikiran Arya dan Murtagh tetap tak tersetuh dan masih dipertanyakan.


Salah Satu Perkiraan Cover Buku IV

Hanya satu buku lagi untuk mengakhiri rangkaian cerita Siklus Warisan ini yang saya tahu masih harus menunggu agak lama untuk dapat dinikmati pembaca setianya. Masih banyak pertanyaan yang belum terjawab dan rasanya menunggu dengan sabar itu menyebalkan tapi tak ada salahnya menunggu sesuat lebih lama untuk dapat kualitas yang terbaik dan kepuasan yang lebih besar. Semoga saja. Mengutip kata-kata Brom, semoga pedangmu tetap tajam!

Selasa, 01 Maret 2011

(Manga Review) Cross Game, Another Baseball Manga from Mitsuru Adachi... Mengaduk Emosi



<a href="url gambar"><img alt="cross game kou aoba seishu baseball uniform" src="urlgambar" title="cross game kou aoba seishu baseball uniform" />

<a href="url gambar"><img alt="cross game kou aoba fight" src="urlgambar" title="cross game kou aoba fight" />
Kou&Aoba

Scene shot di atas ada di anime Cross Game yang diangkat dari manga dengan judul sama karya terbaru Mitsuru Adachi sensei.  Dua Tokoh di atas adalah Kou Kitamura dan Aoba Tsukishima yang diceritakan selalu bertentangan dari kecil karena sifat mereka terlalu mirip. Kisah dimulai saat Kou masih duduk di bangku kelas 5 SD. Kou Kitamura, anak cowok yang keluarganya mempunyai toko olahraga selalu bergaul dengan ke empat anak gadis keluarga Tsukishima yang mempunyai usaha Batting Center dan Kafe. Kou terutama sangat dekat dengan Wakaba Tsukishima yang seangkatan dengannya. Meskipun tak ada istilah pacaran karena mereka masih kecil, Kou dan Wakaba saling menyukai dan selalu bersama-sama. Wakaba yang cantik sangat populer dan disukai banyak orang. Diantara yang menyukainya itu ada seorang anak berandalan bernama Akaishi.

<a href="url gambar"><img alt="cross game wakaba kou last picture" src="urlgambar" title="cross game wakaba kou last picture" />
Wakaba&Kou

 Aoba, adik Wakaba yang kelas 4SD, sangat membenci Kou dan selalu bertengkar dan berkelahi dengannya. Aoba sangat menyayangi Wakaba sehingga tak suka pada Kou yang memonopoli perhatian Wakaba. Berbeda dengan Wakaba yang ceria, lugas, ramah pada siapa saja, Aoba justru sangat tomboy, suka emosian dan tertutup pada orang lain. Meskipun wanita dan masih anak-anak, Aoba sangat berbakat dalam pitching. Suatu hari, tim baseball dadakan Kou bertanding dengan tim baseball Aoba dan Kou kalah telak dan berniat untuk meningkatkan kemampuan pitchingnya terinspirasi oleh Aoba. Wakaba pun mendukung dan memberi Kou resep latihan fisik ala Aoba yang ternyata lumayan berat. Wakaba percaya bahwa Kou bisa mejadi Pitcher No. 1 se-Jepang. Aoba tentu saja sangat tidak setuju dengan pendapat Wakaba. Sayang kehidupan anak-anak mereka yang penuh warna itu diwarnai tragedi yang membuat jalinan takdir mereka diwarnai kepedihan.

<a href="url gambar"><img alt="cross game nakanishi kou akaishi" src="urlgambar" title="cross game nakanishi kou akaishi" />
Nakanishi-Kou-Akaishi
 
Waktu bergulir, Kou yang sudah SMU akhirnya menjadi Pitcher handal. Bersama dengan Akaishi yang menuruti perkataan Wakaba saat mereka masih kecil dan menjadi Catcher. Juga Azuma, Batter handal yang sepertinya suka pada Aoba. Dan Nakanishi yang sejak kecil satu klub Baseball dengan Kou. Bersama mereka berjuang agar bisa sampai ke Koushien seperti mimpi Wakaba.

Membaca manga satu ini benar-benar mengaduk emosi bahkan dari jilid pertama. Bagi yang sudah biasa membaca karya Adachi sensei, seharusnya sudah harus bisa menebak alur cerita ini. Tapi tetap saja sang komikus selalu membuat kejutan-kejutan yang tak terdeteksi bahkan oleh para penikmat karyanya. Bagi yang belum membaca seri Cross Game ini, saya anjurkan untuk jangan melewatkan membaca manga satu ini.

(FILM/Movie review) Tron Vs Troy, Digital Vs Kolosal...

<a href="url gambar"><img alt="review movie tron legacy" src="urlgambar" title="review movie tron legacy" />

<a href="url gambar"><img alt="review movie troy" src="urlgambar" title="review movie troy" />

Dua film dengan konsep sangat berbeda ini adalah salah satu/dua film favorit saya. 

Tron yang baru saya tonton baru-baru ini menggugah imajinasi kita akan dunia digital yang tidak mustahil untuk diciptakan dengan makin berkembangnya teknologi. Tron: Legacy ini adalah sekuel dari film Tron yang dirilis tahun 1982 dulu.  Tron: Legacy menggambarkan kehidupan Sam Flynn, anak dari Kevin Flynn sang pencipta dunia gigital yang menghilang saat Sam anak-anak. Sam yang akhirnya menemukan cara untuk memasuki dunia ciptaan ayahnya malah dilibatkan dalam game berbahaya yang membutuhkan keterampilan dan kecepatan. Awalnya ia tidak terlalu kesulitan untuk bertahan, namun akhirnya ia terdesak dan dibantu oleh seorang Program bernama Quorra. Saat itu Sam telah bertemu Clu, Program jahat yang sangat mirip dengan ayahnya, Kevin Fynn.  Quorra membawa Sam bertemu dengan ayah aslinya yang ternyata tidak bisa pulang ke dunia nyata karena dihalangi Clu. Berbeda dengan Clu yang umurnya tidak berubah sejak 20 tahun lalu, Kevin Flynn  sudah sangat renta dan kehilangan semangat.  Setelah berunding, akhirnya Sam, Kevin Flynn dan Quorra sepakat untuk mencari cara keluar dari dunia digital yang sudah tak terkendali itu. Sayang mereka dihadang oleh Tron, Program yang dulunya teman Kevinn Flynn. Meski akhirnya Sam kembali ke dunia nyata, ia harus kehilangan seseorang yang dicintainya lagi. 

Film dengan efek 3D ini benar-benar mengajak kita bertualang di unknown world. Garrett Hedlund dan Olivia Wilde yang berperan sebagai Sam Flynn dan Quorra sangat cocok untuk perannya masing-masing. Tokoh-tokoh sentral di sekuel pertamanya itu yakni Tron/Alan Bradley dan Clu/Kevin Flynn yang diperankan Bruce Broxleitner dan Jeff Bridges juga hadir di sekuel keduanya dengan peran yang sama. Yang unik adalah tokoh Clu yang berumur 30an, dengan tokoh Kevin Flynn yang 50an diperankan oleh orang yang sama yaitu Jeff Bridges. Proses editing yang sempurna membuat Jeff benar-benar terlihat masih muda.

Berbeda dengan Tron, Troy yang dirilis pada tahun 2004 ini merupakan film adaptasi dari karya terlaris Homer, The Illiad, yang sangat bergaya kolosal. Dengan pemain bertabur bintang-bintang top Hollywood, film dengan banyak Plot ini sangat menarik untuk ditonton. Tokoh sentral dalam film ini adalah Achilles, seorang prajurit gagah berani yang dihormati pasukannya tapi sifatnya sangat seenaknya sehingga Raja Sparta, Agamemnon, sangat kesal padanya meskipun juga sangat membutuhkannya di medan perang. 

Masalah bermula ketika Paris, pangeran dari kerajaan Troy membawa lari Helen, istri dari adik raja Sparta. Hector, kakak Paris yang juga putra mahkota Troy yang gagah, meski tidak setuju dengan tindakan Paris, tetapi tetap melindungi adiknya. Raja Sparta yang memang sangat ingin menguasai Troy memanfaatkan kemurkaan adiknya untuk mendeklarasikan perang terhadap Troy. Troy yang hanya sebuah kerajaan kecil kewalahan pada awalnya. Achilles yang menjadikan sepupu Hector, Brisseis sebagai tawanan akhirnya menyukai gadis itu dan tidak ikut memeriahkan peperangan sehingga Sparta kekurangan kekuatan. Sayangnya sepupu yang sangat disayangi Achilles, Patroclus, terbunuh dalam peperangan oleh Hector yang mengira ia adalah Achilles, sehingga Achilles murka dan menantang Hector duel satu lawan satu yang berakhir dengan kematian Hector. Achilles membebaskan Brisseis yang sama-sama berduka karena kematian sepupunya. Troy akhirnya jatuh karena taktik Oddysus yang cerdik, yaitu memasukan prajurit Sparta ke dalam patung kuda. Pada malam hari saat warga Troy tertidur, Prajurit Sparta keluar dari patung dan memanggil prajurit lain yang bersembunyi di perbukitan lalu menyerang dan membakar habis Troy. Achilles tidak bersedia terlibat perang dan malah mencari Brisseis yang ternyata sedang disudutkan oleh Agamemnon. Brisses menusuk Leher Agamemnon dengan belatinya, namun prajurit Agamemnon menyerangnya. Untunglah Achilles datang menyelamatkannya. Sayangnya pertemuan itu juga diwarnai tragedi.

Film ini benar-benar mengalir. Tokoh-tokohnya diperankan secara pas oleh para pemerannya. Achilles yang diperankan Bradd Pitt, Hector yang diperankan Eric Bana si Hulk, Paris yang diperankan Orlando Bloom si Legolas, Odysus yang diperankan Sean Bean, Helen yang diperankan oleh Diane Kruger, Brisseis yang diperankan oleh Rose Byrne, juga Patroclus yang diperankan Garrett Hedlund. Satu hal yang sangat menarik dari film ini adalah sulit menentukan peran antagonis. Meski Hector dan Achilles berada di pihak berlawanan dan saling menjatuhkan, dua-duanya punya latar belakang dan kepribadian yag mengesankan. jadilah Agamemnon yang mendapatkan kehormatan jadi pemeran antagonis di film ini.

Dua film diatas menarik dengan caranya masing-masing. Tron yang meskipun kurang mendetil  dalam pemaparan latar belakang mempunyai kelebihan di segi kecepatan alur. Sedangkan Troy justru sangat kuat di segi penokohan dan latar belakang. Persamaan dari kedua film ini adalah sama-sama menampilkan Garret Heldlund sebagai salah satu tokohnya.